Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Februari 2021

Pesona Gunung Papandayan Menjadi Magnet Tersendiri Bagi Wisatawan #WISATA JAWA BARAT

Pesona Gunung Papandayan Menjadi Magnet Tersendiri Bagi Wisatawan #WISATA JAWA BARAT - Gunung Papandayan dengan ketinggian 2.665 m dpl (mtr. di permukaan laut) adalah tempat wisata alam yang memikat untuk dikunjungi. Topography lajur pendakiannya benar-benar berteman untuk pendaki pemula. Posisinya gampang dijangkau dari Jakarta, Bandung, dan seputar.



Ada empat kawah menarik di Gunung Papandayan ini: Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Dinding kawah Nangklak, misalkan, yang tersisa letusannya pada November 2002 masih nampak, adalah kemunculan alam yang demikian menarik untuk dilihat.


"Ini bukanlah pertama kali saya naik gunung, tetapi ini yang pertama ke Papandayan. Menurut info dari sama-sama pendaki, gunung ini pas untuk pemula, karena lajurnya yang tidak susah," tutur Muhamad Bahrudin, pendaki asal Jakarta.


Papandayan tidak kalah cantik dari gunung-gunung lain. "Tiap gunung, simpan daya tarik berlainan," lebih Bahrudin, belakangan ini.



Pintu masuk Taman Rekreasi Alam Gunung Papandayan. 

Ada daya tarik padang bunga edelweis selebar 35 hektar di Tegal Alun dan padang rumput Tegal Panjang berdasar pucuk gunung sisi utara yang susah dilalaikan. Tetapi, untuk memasuk teritori ini, penghujung harus mempunyai surat ijin masuk teritori pelestarian (SIMAKSI) dari BBKSDA Jawa Barat karena teritori cagar alam.

Idealisa Masyrafina, mahasiswa Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, dalam risetnya "Keberagaman Tipe Tumbuhan Bawah di Gunung Papandayan" khususnya sisi Timur, Garut, Jawa Barat menulis, ada 101 tipe tumbuhan bawah dari 34 kerabat yang diketemukan di lima posisi risetnya.

Tipe tumbuhan bawah itu ada yang diberi nama ilat (Cyperus brevifolius), pohpohan (Pilea melastomoides), bubukuan leutik (Strobilanthes involucrate), jukut geblug (Eragrotis nigra), bubukuan gede (Strobilanthes cernua), teklan (Eupatorium riparium), kirinyuh (Austroeupatorium inulifolium), balakaciut (Galinsoga parviflora), dan teklan (Eupatorium riparium). Kecuali peranan ekologi, beberapa macam tumbuhan bawah itu bisa digunakan sebagai bahan pangan, obat, pakan ternak, dan sumber energi alternative.

Tempat parkirkan dan pintu masuk lajur pendakian Gunung Papandayan berdasar kawah. 

Untuk satwa liar, ada trenggiling (Manis javanica), kijang (Muntiatus muntjak), surili (Presbytis comata), dan beberapa macam burung seperti punai dan kutilang. Beberapa pribadi macan tutul jawa (Panthera pardus melas) hidup di teritori Gunung Papandayan. Hal yang dibetulkan Panca, ranger yang ditugaskan Balai Besar Pelestarian Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat jaga Papandayan

"Saya pernah saksikan anakan macan tutul pada saat lakukan pengawasan. Takut , dan saya selekasnya pergi," katanya.



Beberapa pendaki melalui lajur di tepi kawah. Ada empat kawah di Gunung Papandayan ini, Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. 


Faksi swasta

Secara administratif, Gunung Papandayan ada di Dusun Simajaya dan Dusun Sakral Harum, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, dan Dusun Neglawangi, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Musibah Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam situs resminya menulis, saat malam hari Agustus 1772, gunung api stratovolcano type A ini pernah erupsi besar dari kawah sentralnya. Awan panas yang dilemparkannya tewaskan nyaris 3000 jiwa dan merusak seputar 40 perkampungan.

Paling akhir, November 2002, erupsi besarnya menyebabkan longsor pada dinding kawah Nangklak. Disamping itu, terjadi banjir di sejauh Sungai Cibereum Gede sampai ke Sungai Cimanuk sepanjang tujuh km.

Berdasar Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor 226/Kpts-II/1990, tanggal 8 Mei 1990, teritori Rimba Gunung Papandayan diputuskan sebagai Cagar Alam (6.807 hektar) dan Taman Rekreasi Alam (225 hektar).

Seorang pendaki membawa juga anaknya saat melalui lajur kawah Papandayan. Topography lajur yang gampang, membuat beberapa pendaki membawa juga keluarganya. 

Sementara, dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.984/Menhut-II/2013 mengenai Penentuan Daerah Kesatuan Pengendalian Rimba Pelestarian (KPHK) Guntur-Papandayan yang berada di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Jawa Barat disebut, KPHK Guntur-Papandayan mempunyai luasan seputar 15.318 hektar.

Luasan itu meliputi TWA Gunung Guntur (250 hektar), TWA Gunung Papandayan (225 hektar), Cagar Alam Gunung Papandayan (6.807 hektar), TWA Kawah Kamojang (500 hektar), dan Cagar Alam Kawah Kamojang (7.536 hektar).

Khusus TWA Gunung Papandayan, pengendaliannya sekarang ini dikasih ke PT. Asri Cantik Lestari. Berdasar keputusan Kepala Tubuh Pengaturan Penanaman Modal (An. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) No. 1/1/IUPSWA/PMDN/2016, ijin usaha pendayagunaan fasilitas rekreasi alam (IUPSWA) sudah diberi dengan daerah urus selebar 92,87 hektar.

Ini adalah zone pemulihan ekosistem Gunung Papandayan yang diatur BBKSDA Jawa Barat. Pucuk paling tinggi Papandayan yang dengan status Cagar Alam nampak dari terlalu jauh. 

Asep Eka Peryoga, pengunjung dari Bandung menjelaskan Papandayan sekarang banyak pengubahan. Saat ini, semua lebih gampang. Fasilitas dan prasana, seperti tempat parkirkan, warung penjual logistik, sampai kamar mandi berada di setiap pos pengamanan.

"Mendaki Papandayan lebih gampang. Persoalan sampah juga, mulai terselesaikan. Kami diingatkan petugas menjaga, supaya tidak menempatkannya di sembarangan tempat."

Peryoga menambah, pengendalian Papandayan sekarang ini memang lebih bagus. "Tetapi, hal itu berpengaruh pada naiknya harga ticket yang perlu dibayarkan pengunjung," sambungnya.

Seorang pendaki berjalan antara tangkai pohon-pohon yang okoh berdiri. Teritori rimba mati jadi saksi gelap dahsyatnya letusan Gunung Papandayan, November 2002 kemarin. 


Pengunjung

Dalam 2 tahun paling akhir, jumlah pengunjung Gunung Papandayan, berdasarkan keterangan Panca, ada kecondongan turun. Berdasar catatannya, di 2015, ada sepuluh ribu pengunjung dalam satu minggu. "Itu jumlah pengunjung yang bermalam, tidak terhitung yang cuman tiba lalu pulang. Saat ini seputar seribu orang /minggu," terangnya di Pos 9 yang kerap disebutkan Pos Ghober Hoet.

Menurut Panca, naiknya harga ticket masuk yang awalannya 10 ribu Rupiah, memang berpengaruh dalam jumlah pengunjung. Saat ini, pengunjung harus bayar 20 ribu Rupiah pada hari kerja dan 30 ribu Rupiah saat hari liburan. Jika akan bermalam dan membangun tenda, harus bayar kembali lagi sejumlah 35.000 Rupiah. "Itu belum terhitung ongkos parkirkan kendaraan, sejumlah Rp17.000 untuk roda dua dan Rp35.000 untuk roda empat," terangnya.

Bagaimana efeknya pada beberapa pedagang? Hadid, yang buka lapak untuk kepentingan logistik pendaki menjelaskan, awalnya ia dapat memperoleh pendapatan Rp1,5 juta dalam 3 hari. Sekarang, cuman Rp300 ribu rupiah setiap harinya.

"Dahulu ramai pengunjung, ditambah musim liburan. Bahkan juga yang bermalam banyak juga. Saat ini tidak begitu," katanya.

Untuk penuhi keperluan keluarganya, Hadid juga buka layanan porter untuk beberapa pendaki. Dari jasanya itu, dia memperoleh tambahan pendapatan. "Biayanya Rp300 ribu untuk antar-jemput pendaki," pungkasnya.

Baca Juga : Viva99 Situs Judi Slot Online Terpercaya Di Indonesia

Sabtu, 10 Desember 2011

Legenda Situ Bagendit

Legenda Situ Bagendit - Garut adalah salah satu daerah di jawa Barat. Merupakan daerah yang subur dan memiliki banyak tempat wisata. Salah satunya adalah Situ bagendit. Dan cerita ini adalah mengenai asal-usul terbentuknya situ Bagendit.

Pada jaman dahulu kala disebelah utara kota garut ada sebuah desa yang penduduknya kebanyakan adalah petani. Karena tanah di desa itu sangat subur dan tidak pernah kekurangan air, maka sawah-sawah mereka selalu menghasilkan padi yang berlimpah ruah. Namun meski begitu, para penduduk di desa itu tetap miskin kekurangan.

Hari masih sedikit gelap dan embun masih bergayut di dedaunan, namun para penduduk sudah bergegas menuju sawah mereka. Hari ini adalah hari panen. Mereka akan menuai padi yang sudah menguning dan menjualnya kepada seorang tengkulak bernama Nyai Endit.

Nyai Endit adalah orang terkaya di desa itu. Rumahnya mewah, lumbung padinya sangat luas karena harus cukup menampung padi yang dibelinya dari seluruh petani di desa itu. Ya! Seluruh petani. Dan bukan dengan sukarela para petani itu menjual hasil panennya kepada Nyai Endit.Mereka terpaksa menjual semua hasil panennya dengan harga murah kalau tidak ingin cari perkara dengan centeng-centeng suruhan nyai Endit. Lalu jika pasokan padi mereka habis, mereka harus membeli dari nyai Endit dengan harga yang melambung tinggi.

“Wah kapan ya nasib kita berubah?” ujar seorang petani kepada temannya. “Tidak tahan saya hidup seperti ini. Kenapa yah, Tuhan tidak menghukum si lintah darat itu?”
“Sssst, jangan kenceng-kenceng atuh, nanti ada yang denger!” sahut temannya. “Kita mah harus sabar! Nanti juga akan datang pembalasan yang setimpal bagi orang yang suka berbuat aniaya pada orang lain. Kan Tuhan mah tidak pernah tidur!”

Sementara itu Nyai Endit sedang memeriksa lumbung padinya.
“Barja!” kata nyai Endit. “Bagaimana? Apakah semua padi sudah dibeli?” kata nyai Endit.
“Beres Nyi!” jawab centeng bernama Barja. “Boleh diperiksa lumbungnya Nyi! Lumbungnya sudah penuh diisi padi, bahkan beberapa masih kita simpan di luar karena sudah tak muat lagi.”
“Ha ha ha ha…! Sebentar lagi mereka akan kehabisan beras dan akan membeli padiku. Aku akan semakin kaya!!! Bagus! Awasi terus para petani itu, jangan sampai mereka menjual hasil panennya ke tempat lain. Beri pelajaran bagi siapa saja yang membangkang!” kata Nyai Endit.

Benar saja, beberapa minggu kemudian para penduduk desa mulai kehabisan bahan makanan bahkan banyak yang sudah mulai menderita kelaparan. Sementara Nyai Endit selalu berpesta pora dengan makanan-makanan mewah di rumahnya.
“Aduh pak, persediaan beras kita sudah menipis. Sebentar lagi kita terpaksa harus membeli beras ke Nyai Endit. Kata tetangga sebelah harganya sekarang lima kali lipat disbanding saat kita jual dulu. Bagaimana nih pak? Padahal kita juga perlu membeli keperluan yang lain. Ya Tuhan, berilah kami keringanan atas beban yang kami pikul.”
Begitulah gerutuan para penduduk desa atas kesewenang-wenangan Nyai Endit.

Suatu siang yang panas, dari ujung desa nampak seorang nenek yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dia melewati pemukiman penduduk dengan tatapan penuh iba.
“Hmm, kasihan para penduduk ini. Mereka menderita hanya karena kelakuan seorang saja. Sepertinya hal ini harus segera diakhiri,” pikir si nenek.
Dia berjalan mendekati seorang penduduk yang sedang menumbuk padi.
“Nyi! Saya numpang tanya,” kata si nenek.
“Ya nek ada apa ya?” jawab Nyi Asih yang sedang menumbuk padi tersebut
“Dimanakah saya bisa menemukan orang yang paling kaya di desa ini?” tanya si nenek
“Oh, maksud nenek rumah Nyi Endit?” kata Nyi Asih. “Sudah dekat nek. Nenek tinggal lurus saja sampai ketemu pertigaan. Lalu nenek belok kiri. Nanti nenek akan lihat rumah yang sangat besar. Itulah rumahnya. Memang nenek ada perlu apa sama Nyi Endit?”
“Saya mau minta sedekah,” kata si nenek.
“Ah percuma saja nenek minta sama dia, ga bakalan dikasih. Kalau nenek lapar, nenek bisa makan di rumah saya, tapi seadanya,” kata Nyi Asih.
“Tidak perlu,” jawab si nenek. “Aku Cuma mau tahu reaksinya kalau ada pengemis yang minta sedekah. O ya, tolong kamu beritahu penduduk yang lain untuk siap-siap mengungsi. Karena sebentar lagi akan ada banjir besar.”
“Nenek bercanda ya?” kata Nyi Asih kaget. “Mana mungkin ada banjir di musim kemarau.”
“Aku tidak bercanda,” kata si nenek.”Aku adalah orang yang akan memberi pelajaran pada Nyi Endit. Maka dari itu segera mengungsilah, bawalah barang berharga milik kalian,” kata si nenek.
Setelah itu si nenek pergi meniggalkan Nyi Asih yang masih bengong.

Sementara itu Nyai Endit sedang menikmati hidangan yang berlimpah, demikian pula para centengnya. Si pengemis tiba di depan rumah Nyai Endit dan langsung dihadang oleh para centeng.
“Hei pengemis tua! Cepat pergi dari sini! Jangan sampai teras rumah ini kotor terinjak kakimu!” bentak centeng.
“Saya mau minta sedekah. Mungkin ada sisa makanan yang bisa saya makan. Sudah tiga hari saya tidak makan,” kata si nenek.
“Apa peduliku,” bentak centeng. “Emangnya aku bapakmu? Kalau mau makan ya beli jangan minta! Sana, cepat pergi sebelum saya seret!”
Tapi si nenek tidak bergeming di tempatnya. “Nyai Endit keluarlah! Aku mau minta sedekah. Nyai Endiiiit…!” teriak si nenek.
Centeng- centeng itu berusaha menyeret si nenek yang terus berteriak-teriak, tapi tidak berhasil.
“Siapa sih yang berteriak-teriak di luar,” ujar Nyai Endit. “Ganggu orang makan saja!”
“Hei…! Siapa kamu nenek tua? Kenapa berteriak-teriak di depan rumah orang?” bentak Nyai Endit.
“Saya Cuma mau minta sedikit makanan karena sudah tiga hari saya tidak makan,” kata nenek.
“Lah..ga makan kok minta sama aku? Tidak ada! Cepat pergi dari sini! Nanti banyak lalat nyium baumu,” kata Nyai Endit.
Si nenek bukannya pergi tapi malah menancapkan tongkatnya ke tanah lalu memandang Nyai Endit dengan penuh kemarahan.
“Hei Endit..! Selama ini Tuhan memberimu rijki berlimpah tapi kau tidak bersyukur. Kau kikir! Sementara penduduk desa kelaparan kau malah menghambur-hamburkan makanan” teriak si nenek berapi-api. “Aku datang kesini sebagai jawaban atas doa para penduduk yang sengsara karena ulahmu! Kini bersiaplah menerima hukumanmu.”
“Ha ha ha … Kau mau menghukumku? Tidak salah nih? Kamu tidak lihat centeng-centengku banyak! Sekali pukul saja, kau pasti mati,” kata Nyai Endit.
“Tidak perlu repot-repot mengusirku,” kata nenek. “Aku akan pergi dari sini jika kau bisa mencabut tongkatku dari tanah.”
“Dasar nenek gila. Apa susahnya nyabut tongkat. Tanpa tenaga pun aku bisa!” kata Nyai Endit sombong.

Lalu hup! Nyai Endit mencoba mencabut tongkat itu dengan satu tangan. Ternyata tongkat itu tidak bergeming. Dia coba dengan dua tangan. Hup hup! Masih tidak bergeming juga.
“Sialan!” kata Nyai Endit. “Centeng! Cabut tongkat itu! Awas kalau sampai tidak tercabut. Gaji kalian aku potong!”
Centeng-centeng itu mencoba mencabut tongkat si nenek, namun meski sudah ditarik oleh tiga orang, tongkat itu tetap tak bergeming.
“Ha ha ha… kalian tidak berhasil?” kata si nenek. “Ternyata tenaga kalian tidak seberapa. Lihat aku akan mencabut tongkat ini.”
Brut! Dengan sekali hentakan, tongkat itu sudah terangkat dari tanah. Byuuuuurrr!!!! Tiba-tiba dari bekas tancapan tongkat si nenek menyembur air yang sangat deras.
“Endit! Inilah hukuman buatmu! Air ini adalah air mata para penduduk yang sengsara karenamu. Kau dan seluruh hartamu akan tenggelam oleh air ini!”
Setelah berkata demikian si nenek tiba-tiba menghilang entah kemana. Tinggal Nyai Endit yang panik melihat air yang meluap dengan deras. Dia berusaha berlari menyelamatkan hartanya, namun air bah lebih cepat menenggelamkannya beserta hartanya.

Di desa itu kini terbentuk sebuah danau kecil yang indah. Orang menamakannya ‘Situ Bagendit’. Situ artinya danau dan Bagendit berasal dari kata Endit. Beberapa orang percaya bahwa kadang-kadang kita bisa melihat lintah sebesar kasur di dasar danau. Katanya itu adalah penjelmaan Nyai Endit yang tidak berhasil kabur dari jebakan air bah.






Situ bagendit
(short version)

Pada zaman dahulu hiduplah seorang janda yang kaya raya,bernama Nyai Endit.
Ia tinggal di sebuah desa di daerah Garut, Jawa Barat. Nyai Endit mempunyai harta yang berlimpah ruah. Akan tetapi, ia sangat kikir dan tamak. Ia juga sangat sombong, terutama pada orang-orang miskin. Suatu hari Nyai Endit mengadakan selamatan karena hartanya bertambah banyak. Ketika selamatan itu berlangsung, datanglah seorang pengemis. Keadaan pengemis itu sangat menyedihkan. Tubuhnya sangat kurus dan bajunya compang-camping. “Tolong Nyai, berilah hamba sedikit makanan, ”pengemis itu memohon. Melihat pengemis tua yang kotor dan compang-camping masuk ke rumahnya, Nyai Endit itu marah dan mengusir pengemis itu. “Pengemis kotor tidak tahu malu, pergi kau dari rumahku, ”bentak Nyai Endit. Dengan sedih pengemis itu pergi. Keesokan harinya masyarakat disibukkan dengan munculnya sebatang lidi yang tertancap di jalan desa. Semua orang berusaha mencabut lidi itu. Namun,tidak ada yang berhasil. Pengemis tua yang meminta makan pada Nyai Endit muncul kembali.
Dengan cepat ia dapat mencabut lidi itu. Seketika keluarlah pancuran air yang sangat deras. Makin lama air itu makin deras. Karena takut kebanjiran,penduduk desa itu mengungsi. Nyai Endit yang kikir dan tamak tidak mau meninggalkan rumahnya. Ia sangat sayang pada hartanya. Akhirnya, ia tenggelam bersama dengan harta bendanya. Penduduk yang lain berhasil selamat. Konon,begitulah asal mula danau yang di kemudian hari dinamakan Situ Bagendit.

Jumat, 09 Desember 2011

Wisata Di Yogyakarta

Wisata Di Yogyakarta - Siapa yang tidak kenal salah satu tempat wisata di Yogyakarta yang satu ini, Ya .. MALIOBORO . Pusat belanja oleh-oleh, pernak-pernik dan cinderamata yang terlengkap dan termurah (he..he.. kalo jago menawar).
Bila musim liburan tiba, para wisatawan selalu memadati Malioboro mulai dari pagi hingga petang. Bahkan larut malam, Malioboro tidak pernah sepi oleh para wisatawan. Bila hari sudah mulai larut malam para pedagang kaki lima mulai berkemas untuk pulang, giliran para pedagang makanan lesehan yang menggelar aneka masakan. Mulai dari nasi gudeg, ayam goreng, bebek goreng atau nasi brongkos dan sebagainya.
Wilayah Malioboro mulai dari ujung paling utara adalah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Di utara stasiun Tugu terdapat monumen Tugu yang menjadi simbol kota gudeg ini. Para pelancong yang menggunakan transportasi kereta api ke Yogyakarta, sangat mudah dan cepat menuju pusat belanja Malioboro. Dan Malioboro yang paling selatan juga tak kalah menarik. Setelah lelah berbelanja dan kuliner di Malioboro, silahkan menuju ke selatan Malioboro ini karena masih banyak tempat wisata yang asik. Mulai dari Gedung Agung Kepresidenan Indonesia, Benteng Vredeburg, Monumen Sebelas Maret, Alun-alun Utara, Kraton Ngayogyakarta, Taman Sari dan Pasar Burung Ngasem.
Lokasi wisata yang banyak sekali menjadikan kota Yogyakarta menjadi salah satu kota favorit untuk tujuan liburan para wisatawan. Suasana aman, tertib dan nyaman menjadikan kota yang dikenal dengan makanan gudegnya ini pilihan nomor satu berwisata..
Bila Anda berniat liburan ke Kota Jogja,Khususnya Wisata Di Malioboro, Yogyakarta jangan lupa ajak aku ya...he..he.

Kamis, 08 Desember 2011

ARUNG JERAM SUNGAI CIKANDANG

ARUNG JERAM SUNGAI CIKANDANG -Kini MasHasby berbagi info tentang wisata alam yang ada di garut jawa barat. Salah satu aktivitas wisata yang ada di Kabupaten Garut berupa arung jeram sungai Cikandang yang terletak di Desa Sukamulya Kecamatan Pakenjeng. Objek wisata ini terletak 400 m di atas permukaan laut dengan konfigurasi umum lahan bergunung, berbukit dan berlembah. Panjang sungai yang sering dipakai sebagai daya tarik wisata arung jeram ini ? 28 km dengan lebar 5-8 m. Kualitas lingkungan dan kebersihan di sungai Cikandang ini tergolong baik karena kawasan wisata arung jeram ini masih sangat alami. Tingkat kemiringan lahan sungai agak curam dengan stabilitas dan daya serap tanah yang baik. Temperatur rata-rata berkisar antara 30-40?C dengan penyinaran matahan rata-rata tergolong terik dan terdapat pengaruh musim pada saat musim hujan air di sungai Cikandang sangat deras sehingga sangat baik untuk melakukan kegiatan wisata arung jeram, sedangkan pada saat musim kemarau menjadi surut sehingga kegiatan wisata arung jeram sulit dilakukan. Kekuatan tiupan angin tergolong tidak terlalu besar.


Perairan di sungai Cikandang berwarna hijau kecoklatan dengan bau dan temperatur air normal. Rata-rata tinggi arus di Sungai Cikandang 1-2 m, sehingga merupakan tantangan yang menantang dalam kegiatan arung jeram. Material dasar sungai berupa Lumpur, batu kali dan kerikil dengan tingkat kemiringan dasar sungai yang variatif, dari landai ke curam. serta jenis ground cover berupa tanah liat dan bebatuan. Sayangnya terdapat vandalisme yang dilakukan pengunjung dengan mencoret batu-batu di Sungai Cikandang. Flora tepi sungai yang dominan adalah pohon kelapa. kayu albasiah, bambu dan kayu hutan lainnya, sedangkan di sepanjang tepi sungai terdapat fauna seperti monyet dan beberapa jenis burung. Tingkat abrasi tergolong kecil namun pemah tejadi longsor di Desa Neglasan yang dilewati oleh sungai Cikandang. Tingkat visabilitas di kawasan ini bebas dikarenakan masih alami, dan tingkat kebisingan rendah.

Selasa, 29 November 2011

Tempat Wisata Candi Cangkuang

Tempat Wisata Candi Cangkuang - adalah sebuah candi Hindu yang terdapat di Kampung Pulo, wilayah Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Jawa Barat. Candi inilah juga yang pertama kali ditemukan di Tatar Sunda serta merupakan satu-satunya candi Hindu di Tatar Sunda. Sebelumnya MasHasby Ingin Menceritakan Sejarah Candi Ini Terlebih dahulu.

Candi ini pertama kali ditemukan pada tahun 1966 oleh tim peneliti Harsoyo dan Uka Candrasasmita berdasarkan laporan Vorderman (terbit tahun 1893) mengenai adanya sebuah arca yang rusak serta makam leluhur Arif Muhammad di Leles. Selain menemukan reruntuhan candi, terdapat pula serpihan pisau serta batu-batu besar yang diperkirakan merupakan peninggalan zaman megalitikum. Penelitian selanjutnya (tahun 1967 dan 1968) berhasil menggali bangunan makam.
Walaupun hampir bisa dipastikan bahwa candi ini merupakan peninggalan agama Hindu (kira-kira abad ke-8 M, satu zaman dengan candi-candi di situs Batujaya dan Cibuaya?), yang mengherankan adalah adanya pemakaman Islam di sampingnya.
Bangunan Candi Cangkuang yang sekarang dapat kita saksikan merupakan hasil pemugaran yang diresmikan pada tahun 1978. Candi ini berdiri pada sebuah lahan persegi empat yang berukuran 4,7 x 4,7 m dengan tinggi 30 cm. Kaki bangunan yang menyokong pelipit padma, pelipit kumuda, dan pelipit pasagi ukurannya 4,5 x 4,5 m dengan tinggi 1,37 m. Di sisi timur terdapat penampil tempat tangga naik yang panjangnya 1,5 m dan lébar 1,26 m.
Tubuh bangunan candi bentuknya persegi empat 4,22 x 4,22 m dengan tinggi 2,49 m. Di sisi utara terdapat pintu masuk yang berukuran 1,56 m (tinggi) x 0,6 m (lebar). Puncak candi ada dua tingkat: persegi empat berukuran 3,8 x 3,8 m dengan tinggi 1,56 m dan 2,74 x 2,74 m yang tingginya 1,1 m. Di dalamnya terdapat ruangan berukuran 2,18 x 2,24 m yang tingginya 2,55 m. Di dasarnya terdapat cekungan berukuran 0,4 x 0,4 m yang dalamnya 7 m (dibangun ketika pemugaran supaya bangunan menjadi stabil).
Di antara sisa-sisa bangunan candi, ditemukan juga arca (tahun 1800-an) dengan posisi sedang bersila di atas padmasana ganda. Kaki kiri menyilang datar yang alasnya menghadap ke sebelah dalam paha kanan. Kaki kanan menghadap ke bawah beralaskan lapik. Di depan kaki kiri terdapat kepala sapi (nandi) yang telinganya mengarah ke depan. Dengan adanya kepala nandi ini, para ahli menganggap bahwa ini adalah arca Siwa. Kedua tangannya menengadah di atas paha. Pada tubuhnya terdapat penghias perut, penghias dada dan penghias telinga.
Keadaan arca ini sudah rusak, wajahnya datar, bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang. Lebar wajah 8 cm, lebar pundak 18 cm, lebar pinggang 9 cm, padmasana 38 cm (tingginya 14 cm), lapik 37 cm & 45 cm (tinggi 6 cm dan 19 cm), tinggi 41 cm.
Candi Cangkuang sebagaimana terlihat sekarang ini, sesungguhnya adalah hasil rekayasa rekonstruksi, sebab bangunan aslinya hanyalah 35%-an. Oleh sebab itu, bentuk bangunan Candi Cangkuang yang sebenarnya belumlah diketahui.
Candi ini berjarak sekitar 3 m di sebelah selatan makam Arif Muhammad/Maulana Ifdil Hanafi.

Terdapat transportasi unik berupa rakit ( sampan yang terbuat dari bambu ) untuk melintasi danau kecil , untuk sampai ke pulau kecil dimana candi cangkuang terletak .

Ada dasas desus mengtakan bahwa , jika mengunjung situs candy ini sebaiknya dilakukan selain hai rabu , Kenapa ? konon kabarnya jika mengunjungi candi ini pada hari rabu , makan anda akan mendapatkan kesialan .

Untuk hari hari biasa tiket masuk tidak di pungut namun jika hari hari besar seperti hari libur atau hari besar lainya anda cukup membayar  2000 - 3000 Rupiah Saja , Cukup Terjangkau Bukan.

Semoga Artikel Tentang Candi Cangkuan Dapat Menambah Tujuan Anda Untuk Berwisata.

Kamis, 24 November 2011

Taman Satwa Cikembulan

Taman Satwa Cikembulan - Sebuah taman satwa satu-satunya di Garut yang mempunyai koleksi cukup lengkap dari berbagai jenis burung, Reptil, primata, mamalia dan kucing besar. Tempat yang cocok untuk mengahbiskan waktu anda bersama keluarga dan mengenal lebih dekat dengan dunia binatang.
Di Taman Satwa Cikembulan menyediakan pula tempat makan dan souvenir.Taman satwa Cikembulan juga menyediakan area bermain anak seperti main motor ATV

Terletak di Kecamatan Kadungora, dari jalan raya Garut-Bandung masuk sekitar 2 Km. Dari jembatan Cigunung Agung kalo dari bandung belok kiri,kira-kira 3 KM anda akan sampai di lokasi.




Untuk tiket masuk harganya sangat terjangkau :

Untuk anak anak di bawah 13 tahun anda cukup membayar Rp 7.000,-
Sedangkan Untuk Orang Dewasa Anda Harus Membayar Rp 10.000,-
Cukup Terjangkau Bukan ?

Tertarik ?
Makanya Buruan Berlibur Di Taman Satwa Cikembulan

Semoga Postingan Tentang Taman Satwa Cikembulan Dalam berlibur Atau Berwisata

 

Statistic

SEO Stats powered by MyPagerank.Net
Google Find us on Google+

Pengikut

Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India